“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]

Senang rasanya sependapat dengan Kartini :)

Mei 2009, di blog ini juga,  saya menulis Cita-cita saya adalah menjadi Bunda, itu saja. Dua tahun kemudian, saat ini, kurang dari sebulan pernikahan saya,  saya menulis lagi, masih dengan tema yang sama, Bunda.

Sampai sekarang role model saya masih Ibu Hasri Ainun Habibie, dokter yang terlahir dari keluarga intelek, tapi memilih menjadi bunda bagi anak-anaknya. Toh itu tak mengurangi rezekinya. Juga tentu saja Khadijah R.A, istri Rasul, pengusaha sukses, tapi juga seorang bunda yang luar biasa.

Kata “Bunda” bagi saya, lebih dari sekedar Ibu secara fisik yang melahirkan anak(-anak) kandungnya. Bagi saya, kata tersebut memiliki nilai sakral yang teramat berat untuk diemban. Bunda adalah seorang pengayom dan pendidik. Pemberi rasa aman dan nyaman, sekaligus pelita bagi siapapun. Terutama bagi suami dan anak-anaknya sendiri tentunya. Berat sungguh. Sampai sekarang saya masih tak mampu bersikap seperti itu.

Namun katanya, cita-cita itu harus setinggi bintang ya, jadi kalo ga sampe bintang minimal sampe awan. Oleh karena itulah saya suka dipanggil Bunda. Padahal saya belum menikah, apalagi punya anak. Bukan Bundanya si A atau si Z.

Menjelang pernikahan, hasrat terpendam menjadi Bunda Pendidik ini semakin menjadi. Padahal siapa saya? Berbakat jadi guru, tidak. Latar belakang pendidik, bukan. Bahkan hanya Tuhan yang tau saya akan diberi kepercayaan mengasuh anak kandung atau tidak. Tapi semua itu bukan alasan untuk tidak menyiapkan diri, bukan begitu?

Sebagai bentuk persiapan itu, saya banyak mencari artikel di Internet. Bagaimana fisik dan mental menjadi Ibu sudah harus disiapkan jauh-jauh hari sebelum menikah. Mulai dari asupan makanan dan gizi, keharusan berolahraga, lalu asupan rohani (sholat, puasa, sedekah, membaca Al Quran). Banyak memang, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Salah satu bentuk usaha saya yang agak ekstrim adalah mempengaruhi orang-orang terdekat agar kelak saya bisa bekerja dari rumah, atau setidaknya bekerja di tempat yang dekat dari rumah dan tidak harus menghabiskan separuh hari saya di kantor. Toh saya tidak bodoh, hanya karena sekolah dulu pernah tidak dapat rangking bukan berarti saya nggak pernah jadi juara umum. Saya mendapat predikat tres bien (sangat baik/sangat memuaskan) di kelas bahasa Prancis. Saya memiliki bakat mudah belajar dari itu teori sampai keterampilan (menjahit, pergamano, paper quilling, merenda, merajut,  memasak). Jadi uang seharusnya bukan alasan untuk tetap bekerja jauh dari rumah.

Bagaimanapun, semua hanya usaha. Yang bagi saya baik, belum tentu bagi Tuhan, dan sebaliknya.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Saya merelakan impian masa muda saya untuk dapat ‘terbang’ jauh. Semua for the greater good. Semoga semesta mendukung. Amin.

Artikel terkait :
IBU SEBAGAI PENDIDIK PERTAMA DAN UTAMA
PERAN PEREMPUAN DALAM KELUARGA ISLAMI
Wanita dalam Keluarga Islami

*Tulisan ini dibuat sebagai justifikasi kepada calon suami saya, tentang mengapa saya sangat menginginkan untuk dapat mengatur ‘waktu’ saya sepenuhnya. :)

 

Category: Moi  Tags: ,  Leave a Comment

Keretaku terus melaju, sebentar lagi sampai di pelabuhan.

Kampung halaman, desa-desa, kota-kota yang pernah aku singgahi sejenak terbayang lagi di mataku.

Pertama kali aku berjalan

Ibuku bilang umur 8 bulan aku sudah pandai berjalan. Betapa kuat keinginan untuk mandiri dan segera pergi.

Pertama kali aku sekolah

Ya, masa-masa sekolah berlalu dengan indah. Tak sedikitpun kusesali masa yang singkat itu. Banyak teman dan banyak kenangan aku rasakan. Banyak cinta juga tentunya ;)

Pertama kali aku kuliah

Jauh dari orang tua bukannya membuat aku sedih, malah sangat bersemangat. Kebebasan baru ini begitu menarik dan menakjubkan.

Pertama kali aku bekerja

Punya uang sendiri, walau tak cukup tak apalah. Makin sering ingin pulang dan rindu rumah, sepertinya sudah terlalu lama merantau.

Ah,angin laut mulai terasa,, sedikit lagi hampir sampai pelabuhan.

Aku akan berganti kendaraan. Kapalku sudah menunggu, ia bersandar disana. Lautan yang luas akan segera aku arungi. Antara sedih, senang, takut, bahagia bercampur menjadi satu. Namun rasa ingin tahu mengalahkan segalanya.

Di kapal nanti, aku tak mau sendiri lagi. Akan kuajak serta orang-orang terdekatku. Dan kenangan yang telah berlalu, biarlah menjadi catatan masa lalu yang akan selalu aku simpan dalam lubuk hatiku.

Sebulan ini saya tinggal di rumah kakak di Tangerang.

Jauh?

Ah sama aja kalo ke Bogor, 45 menit naik taxi saat ga macet. 1,5-2 jam naik bis saat pergi dan pulang kantor, yang kadang-kadang bisa sampe 3-4jam kalo dihitung juga nunggunya :) Bisa lebih jauh dan lebih lama dari Jogja-Magelang :)

Tinggal di Jakarta membuat pengertian kata ‘jauh’ menjadi berubah. Jauh bukan lagi berarti jarak, tapi bagaimana mencapainya, naik apa, dan kondisi jalan seperti apa. Atau bisa dirangkum dengan ‘waktu tempuh’.

Sebulan ini saya cukup terbantu karna bisa pake motor kakak -yang sedang diklat-, minggu ini diklatnya selesai dan saya harus memutuskan untuk tetap tinggal atau balik ke kos.

Mari kita analisis :

Selama di Tangerang, saya harus berangkat maksimal pukul 6.15. Lebih dari itu resikonya terlambat ke kantor, kecuali saya bersedia berdiri selama di bus. Dari rumah naik motor sekitar 15-20 menit. Ada 3 titik macet utama, dua disebabkan angkot ngetem :( , dan satu lagi macet di lampu lalin. Sampai terminal langsung parkir di Park and Ride Terminal Kalideres, tempatnya lumayan bagus, bersih, dan lapang. InsyaAllah cukup aman. Tarif  per 12 jam 2 ribu rupiah. Park  and Ride ini terletak agak dibelakang. Kalo mau kesana, dari pintu masuk Terminal Kalideres terus aja, nanti ikuti  jalur TransJakarta. Setelah belok kanan, di depan akan terlihat parkir bus luar kota. Masuk aja kesana, jangan belok kanan lagi, karena itu ke arah keluar terminal. Jalan terus dan akan terlihat loket penjaga tiket Park and Ride.

Dari situ nyebrang ke Halte TransJakarta, ongkos sebelum jam 7 pagi IDR2000, setelah itu IDR3500. Ngantrinya bisa ampe keluar halte, tapi jangan khawatir, kalo pagi bisnya banyak. Ada 3 antrian, yang kanan untuk tujuan Pulo Gadung, yang tengah antrian duduk untuk jurusan Kalideres/Pasar Baru, yang kiri adalah antrian berdiri. Antrian ini tidak berlaku untuk hari Sabtu/Minggu/libur. Lama ngantri di antrian duduk kira-kira 20 menit. Biasanya 6.50 mulai jalan. Lama perjalanan sekita 20 menit.

Karena kantor saya di Gatot Subroto, saya harus pindah ke koridor IX di halte Grogol. Dapet bisnya cepet kok, paling lama nunggu 10 menit. Lama perjalanan kira-kira 20-30 menit, seringnya kendaraan agak padat setelah keluar halte Grogol. Sampe halte Gatot Subroto-Jamsostek jalan dikit ke kantor. Sampe deh. Biasanya sampe kantor hampir tepat jam 8.

Pulangnya dengan jalur yang sama, tapi sedikit lebih lama karena macet di Slipi. Biasaaa….

Kalo ga ada motor -saya pernah nyoba-, saya harus berangkat maksimal jam 6, karena harus ganti angkot 2 kali.

Jadi?

Seharusnya semua itu ga masalah. Kalo harus naik angkotpun kan tinggal berangkat lebih cepat (yeaaaaaaaaah! You rock girl!) Bagaimanapun rumah lebih nyaman (saya ini orang rumahan, pas kuliah dulu aja paling lama setahun ngekos trus pindah ke rumah) karena saya termasuk ga begitu suka berbagi dengan orang banyak , jadi kalo di rumah berasanya lebih privat. Secapek-capek dan jauh-jauhnya rumah, tapi penat itu hilang kalo dah nyampe rumah.

Tapi…

Dulu begitu indah, waktu belum banyak yang naik transJ koridor 9. Setidaknya masih sering dapet tempat duduk dan ga terlalu penuh. Sekarang sejak beberapa trayek dihapuskan, banyak yang pindah ke transJ. Udah jarang banget dapet tempat duduk. Kalopun dapet seringnya pas dah mau nyampe halte Grogol. Begitupun dari Grogol ke Kalideres, pasti dah penuh sejak dari Harmoni/Pasar Baru. Berdiri deh…

Setidaknya setiap hari saya habiskan hampir 4 jam di jalan PP. Dulu masih bisa diselingi membaca buku selama dijalan, sekarang sih mending cari pegangan biar ga jatoh. Jadi rasanya sayaaang bgt waktu selama itu terbuang begitu saja.

Belum lagi bulan depan saya punya proyek jahitan yang pasti akan menyita waktu. Dengan pergi jam 6, di kantor selama hampir 10 jam dan sampai rumah sudah jam 8an, waktu yang tersisa cuma cukup buat makan dan tidur. Jam 5 bangun lagi dan waktu berputar semakin cepat. Sementara sabtu/minggu sudah pasti ada jadwal lain, diantaranya ngecek rumah ke Bogor. Sungguh tak ada waktu lagi T_T

Kesimpulannya?

Dari hasil menimbang-nimbang, sepertinya harus balik ke kos lagi nih. Niatnya pindah ke kos yang lebih murah, secara di kos juga cuma numpang tidur dan naro cucian doang.

Hmm..berdoa aja, semoga dilancarkan jalannya, biar ga lama-lama ngekos dan segera pulang ke rumah sendiri. Hope for the best. Bercapek-capek dahulu, senang-senang kemudian :)

Tell me ladies, dalam hidupmu, dari sekian banyak pria yang kau kenal, ada berapa yang bersikap gentleman?

Kalo saya, kurang dari 5!

Saya membagi pria2 yang saya kenal menjadi 2 golongan besar. Dewasa dan tidak dewasa. Golongan kedua diwakili oleh para anak mama; mereka yang bersikap kekanak2an; mereka yang tidak mampu bertanggung jawab kepada diri sendiri (dengan ga lulus2 kuliah atau jadi pengangguran menahun misalnya); yang merasa dirinya paling benar alias egois; yang tidak punya masa depan; yang tidak mampu membuat keputusan; dan yang paling buruk adalah yang tidak mau berubah. Sedangkan isi dari golongan pertama adalah mereka yang tidak seperti golongan kedua dan walau masih golongan kedua tapi mau berubah.

Bagi saya pria dewasa adalah pria yang baik.

Lalu bagaimana yang dimaksud dengan gentleman itu? Sebagai seorang wanita, apa yang saya harapkan dari seorang pria?

Sebelum dijawab saya mau cerita sedikit. Saya bertanya kepada salah satu teman pria saya “menurut kamu, cowok yang gentleman itu yang gimana?” Serta merta dia menjawab : “Yang berani mengaku kalo dia salah!” Khas jawaban cowok banget.

Saya tanya lagi “bisa nggak kamu nyebutin ciri sikap cowok gentleman terhadap ortunya atau terhadap cewek?” Eh dia malah bilang bingung dengan pertanyaan saya, walaupun sudah saya jelaskan lagi.

See? Bahkan cowok sendiri ga tau sikap yang gentleman terhadap orang lain itu yang kayak gimana. Masih dengan egonya, cowok hanya bisa melihat dari dirinya sendiri.

Oke, pendapat itu pasti relatif ya. Tapi bagi saya pribadi, pria yang gentleman itu adalah pria yang mampu membuat saya merasa aman, nyaman dan terlindungi. Just that simple! Dan perasaan itu terus ada selamanya, walau sudah jarang bertemu sekalipun. Selalu ada jaminan perasaan aman dan nyaman darinya walaupun kita bukan saudaranya, kekasihnya atau gebetannya.

Bagi saya itulah pria gentleman. Dan percaya atau tidak, hingga detik ini saya baru menemukan 3 orang yang seperti itu. How rare!

Ada banyak pria baik di dunia, tapi hanya sedikit yang mengerti dan bersikap sebagaimana gentleman.

Category: Just a Note  4 Comments

Jadi, perbincangan saat sarapan pagi ini adalah tentang masa jaya perusahaan tempat saya bekerja.

Dulu, sebelum ada perjanjian kerja yang baru dan sebelum heboh2nya masalah korupsi, menjadi karyawan di perusahaan sekarang saya bekerja merupakan hal yang sangat menyenangkan. Sering ada training ke luar negeri. Gaji pokok sih biasa aja ya jumlahnya, tapi insentifnya banyaaaak. Ada yang cerita dulu dia bisa bolak-balik ke Singapore udah kayak pulang kampung aja. Setahun bisa 30 kali.

Sekarang?

Workshop kebanyakan dilakukan di Jakarta, Bogor, atau Bandung. Ga jauh2. Insentif juga sudah jauh berkurang. Tahun ini -katanya- zero growth, ga bakal nerima orang baru lagi, lebih memaksimalkan yang sudah ada aja. Belum lagi aturan sekantor ga boleh ada suami-istri, kakak-adek, ortu-anak. Benturan kepentingan ini benar2 diperhatikan.

I just wondering, seandainya saya masuk sebagai generasi terdahulu, pemasukan lebih lebih lebih dari cukup, bonus melimpah, sering jalan2 ke luar negeri, belum saat itu masih wajar nerima “bingkisan”, dll.

Apakah saya akan bahagia?

Well, suprisingly, hati saya menjawab, tidak!

Saya sudah merasa cukup dengan apa yang saya dapatkan sekarang.Bagi saya, mekanisme pemberian insentif berdasarkan prestasi ini jauh jauh lebih baik daripada karyawan datang-duduk-diam-dongok, tapi gajinya sama saja dengan yang kerja keras. Masalah bonus dan tunjangan, tentu itu rejeki. Walo dicompare dengan jaman dulu dimasajaya yang terdengar begitu indah, atau cerita bahwa “subdir ini enak lho, bisa jalan2 kesana kemari” tapi bagi saya “rezeki itu sudah ada yang ngatur, masing-masing sudah ada jatahnya”.

Bukan begitu? :)

Category: WorkLife  2 Comments

Facebook tidak ditutup dan weeklyworldnews adalah situs penyebar kebohongan.

Hari minggu kemarin timeline Twitter saya penuh tentang masalah pemblokiran BlackBerry. Heboh tentang masalah layanan BB yang akan diblok. Pernyataan Menkominfo Tifatul Sembiring di Twitternya (@tifsembiring) mengundang banyak kontroversi.

Tweet yang berisi hujatan kepada Pak Menteri pun bertubi-tubi, dari kalangan biasa sampai artis. Mereka yang ahli IT dan praktisi Telco pun urun suara.

Yang kontra kebanyakan mempermasalahkan kenapa hanya karena konten porno trus layanan BB harus di blok. Padahal konten tersebut bisa diakses darimana saja, kenapa BB yang harus dibesar-besarkan. Kicauan jadi melebar kemana-mana. Yang tak tahu apa-apa jadi ikut menghujat, seperti api yang diberi minyak, menyambar cepat.

Untung ada beberapa yang mencoba berpikiran bijak. Ada akun seseorang yang mengajak followernya untuk berpikir sejenak. Twitter hanya menyediakan 140 karakter dan semua tau terkadang tidak mampu menyampaikan maksud dengan batas tersebut. Pemilik akun tersebut mengajak untuk menunggu Pak Menteri menyampaikan maksudnya dengan lebih lengkap.

Sorenya, datang jawaban di Detik.com Alasan di Balik Ultimatum Penghentian BlackBerry

Langsung ada respon dari @DanielTumiwa menanggapi 8 poin tersebut. Respon ini dirangkum oleh Avianto di webnya yang dapat dilihat disini.

Balas berbalas Twit terus berlangsung, tapi setidaknya masyarakat sudah mendapatkan informasi yang berimbang.

Saya jadi teringat minggu lalu bos saya terlambat meeting karena baru ada workshop dengan RIM. Beliau mengatakan tentang alotnya nego dengan RIM masalah pemblokiran konten porno ini, susah ngomong sama RIm padahal uang yang mereka dapat dari kita banyak sekali, masalah server yang nggak mau dipindah ke Indonesia, bagaimana tentang sudah ada kantor cabang RIM Indonesia tapi segala kebijakan harus tetap ke RIM Kanada, bagaimana RIM ga mau bayar pajak, dll dll…

Hal ini pula yang membuat saya akhirnya menulis di Twitter, yg sudah saya rangkum jadi paragraf berikut :

Masalahnya bukan pada konten pornonya, tapi pada arogansi RIMnya. User BB qta trmasuk yg terbesar di dunia, tp RIM ga mw nego. Revenue mereka gede bgt dri kita. Tapi kita minta blok konten aja ribetnya minta ampun. Mindahin server kesini aja gmw. Kantor RIM Indonesia cuma buat pajangan. Kebijakan apa2 tetap lapor ke Kanada. Kita ga dianggep! Padahal Arab (cmiiw) yg user BBnya dikit bisa bikin RIM naro server disana. Lha kita?? Kenapa ga bisa??

Saya rasa masalah BlackBerry ini bukan hanya terkait blokir konten porno saja. Tetapi sudah lebih mengarah kepada nasionalisme kita. Perusahaan asing bikin usaha disini, dapet revenue banyak dari negara ini, tapi masalah perundangan negara ini mereka ga mau nurut.

Saya sebagai orang telco mendukung Pak Tifatul bahwa kita harus tegas!

Lalu bagaimana solusi akhirnya bagi pengguna BlackBerry. Tenang saja, berikut saya kutip dari detik.com Kominfo: BlackBerry Diultimatum, Masyarakat Jangan Panik

Jika pada meeting terakhir tersebut RIM keukeuh tak mau melakukan sensor di layanan internet BlackBerry maka siap-siap saja, akses browsing di ponsel pintar tersebut ditutup. Namun fitur lainnya, macam BlackBerry Messenger dan email masih bisa digunakan pengguna.

“Namun jangan khawatir, pengguna bisa tetap browsing, tapi menggunakan GPRS yang menggunakan jalur operator,” imbuh Gatot.

Senang rasanya melihat betapa mudah bangsa ini bereaksi atas suatu masalah. Sedih ketika mereka cepat melupakannya. Lebih sedih lagi melihat banyak yang berkomentar sepihak saja tanpa cek dan ricek serta melihat dari sisi lainnya.

Bacaan terkait:

Bagaimana Cara Kerja Server RIM

Kominfo: Diskriminatif Jika Biarkan BlackBerry Lolos

Negara-negara Pengancam BlackBerry

BlackBerry Lolos dari Pemblokiran

Hari ini luar biasa.

Sore tadi seperti biasa saya membaca timeline Twitter saya. Terpaku pada satu twit dari J-TUG (Jakarta Twitter User Group) yang di retweet oleh @radityadika, isinya begini :

Telah Berpulang Ke Rahmatulloh Noor Atika Hasanah @tikuyuz hari ini,sekitar 15 menit yg lalu.Semoga amal Ibadahnya diterima disisi Allah SWT

Saya tak tahu siapa itu Noor Atika Hasanah. Apakah artis atau siapa. Lalu iseng saja saya membuka akunnya @tukuyuz. Ternyata tadi pagi (13 jam yang lalu saat tulisan ini dibuat) dia masih ngetwit:

Spent 1 night here, now waiting for the infection result (@ RS. PROF. DR. SULIANTI SAROSO) http://4sq.com/eLARLL

Penyebab kematiannya adalah flek paru (@chikastuff) :

jadi @tikuyuz meninggal karena ada flek dalam paru-paru. diagnosa dari dokternya karena terlalu sering menghirup asap rokok (perokok pasif)

Setelah browsing sana sini, akhirnya nemu berita tentang Tika di detik, bisa dilihat disini http://bit.ly/ef89zU

Merinding saya, bagaimana jika saya yang menjadi Tika. Baru tadi pagi, masih menulis status di akun Twitter, dan senja ini, tiba-tiba berpulang, sampai ajalnya.

Tercenung.

Bertanya pada diri saya sendri.

Apa saja yang sudah saya lakukan selama ini?

Sudahkah saya mendengar nurani saya?
Sudahkah saya membahagiakan orang tua saya?
Sudahkah saya memberikan yang terbaik bagi lingkungan saya?
Sudahkah saya menjalankan apa yang diperintahkan Tuhan saya?

Selama ini..
Saya masih ngotot, apa yang menurut saya benar adalah benar.
Saya masih keras kepala, mengira jalan yang saya pilih adalah yang terbaik.
Saya masih tenggelam dalam mimpi-mimpi saya, tanpa menyadari bahwa hidup di dunia begitu singkat dan saya harusnya sudah bangun sejak saya membuka mata di dunia.

STOP!

Saya harus berhenti berlari sejenak
Menarik nafas dalam-dalam
Melihat kebelakang

Adakah yang saya perbuat selama ini sudah benar?
Jika ada yang salah, mengapa harus tenggelam dan berlarut-larut dalam kesalahan yang sama?
Bagaimanapun istilah telanjur hanya bagi mereka yang malas dan gemar berputus asa.

Yang ada hanyalah pertanyaan, mengapa tak mampu memperbaiki diri?
Tak mampu.. atau tak mau?

Maka jangan pernah menyerah. Lakukan yang terbaik!

Selamat Tahun Baru 2011 teman-teman.
Ingat, hidup itu singkat.
Raihlah impianmu, karna hidup cuma sekali.
“Tapi jangan jadikan impian sebagai satu alasan untuk jauh dari Tuhanmu, dan menyakiti orang-orang di sekelilingmu.”

-sebuah refleksi 2010, menyambut tahun 2011-

Category: Just a Note  Tags: ,  4 Comments

Beberapa hari yang lalu saya membaca status teman saya di Facebook, isinya begini :

banyak kekhilafan dan kesalahan yg kita perbuat,namun kejahatan yg paling nista adalah kejahatan yg mengabaikan anak2 kita,melalaikan air mata hayat kita.
kita bisa tunda kebutuhan kita,kebutuhan anak kita tidak bisa ditunda.
pada saat ini tulang belulang sedang terbentuk,darahnya dibuat,dan susunan syarafnya tengah disusun.
kepadanya kita tak bisa berkata esok,namanya adalah kini…

Sejenak saya tercenung saat membacanya. Pikiran saya langsung menuju ke The Butterfly Effect, sebuah film yang dibintangi Aston Kuthcer pada tahun 2004 silam. Film ini menggambarkan teori chaos, terutama yang menyangkut cuaca, yang mengusulkan bahwa kepakan sayap kupu-kupu di Brasil dapat secara teoritis menyebabkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian (wikipedia).

Bagaimana sebuah hal kecil dapat memberi dampak yang amat besar. Luar biasa. Apa yang kita lakukan hari ini, bisa saja memberi dampak negatif yang luar biasa kepada anak cucu kita nanti. Untuk memberikan mereka kehidupan yang lebih baik, mulai detik ini juga, kita harus mulai bersahabat dengan lingkungan. Menghemat kertas bisa menjadi salah satu cara.

Mengapa harus menghemat kertas? Berikut saya kutip dari salah satu web.

Untuk bersahabat dengan lingkungan, satu hal  yang perlu kita kurangi pemakaiannya yaitu kertas. Produksi kertas membutuhkan banyak energi, air, dan pohon. Menghemat penggunaan kertas berarti juga menghemat air. Ternyata untuk membuat selembar kertas fotokopi, setidaknya dibutuhkan air sebanyak 400 ml (setara dengan 2 gelas). Padahal air saat ini merupakan komoditi yang termasuk langka dan harus dihemat sebisa mungkin. Tapi tidak hanya itu saja, menghemat pemakaian kertas berarti juga ikut menyelamatkan hutan-hutan di bumi ini yang semakin habis digunduli. Ini karena bahan baku kertas yang utama mencapai 95 persen adalah kayu.

Jadi, semakin boros kertas yang kamu pakai, maka kamu telah berperan serta dalam pemborosan air dan penebangan pohon. Well, sudah berapa pohon yang kamu tebang hari ini?

Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana teknologi dapat membantu mengurangi penggunaan kertas tersebut?

Berikut adalah pengalaman pribadi saya.

Sebelum wisuda bulan Mei kemarin, proses yang harus saya lalui tentu adalah membuat skripsi. Saya amati saat seorang mahasiswa mengerjakan skripsi, setidaknya ia akan menghabiskan minimal 1 rim kertas, mulai dari saat bimbingan, penelitian, sampai pencetakan skripsi tersebut. Coba hitung ada berapa mahasiswa di satu universitas. Di kampus saya, setiap satu periode wisuda setidaknya ada sekitar 1500 wisudawan. Satu tahun ada 4 periode. Jadi ada sekitar 6000 mahasiswa. Jika rata-rata 1 mahasiswa menghabiskan 1 rim, berarti minimal ada 6000 rim kertas yang sudah dipakai. ITU, baru satu universitas saja kawan.

Mari melihat dari sisi global, selain universitas ada sekolah dan kantor yang menjadi konsumen terbanyak penggunaan kertas. Saya tidak dapat membayangkan besarnya angka yang akan keluar. Itu baru kertas saja, belum produk pohon/kayu lainnya. Sudah, jangan dibayangkan :)

Kembali ke skripsi. Beruntung sekali saat itu saya mendapatkan dosen yang peduli dengan hal-hal yang berbau paperless. Saat bimbingan, hampir tidak pernah saya datang dengan membawa bab per bab skripsi saya untuk diperiksa. Kami memanfaatkan pengelolaan dokumen secara online. Pada awalnya kami menggunakan sistem manual, dimana mahasiswa mengirimkan file skripsi melalui email, lalu dosen akan mengeceknya melalui software editor dokumen. Jika ada revisi, dosen saya menggunakan fitur Track Changes untuk membuat revisi dan komentar. Setelah dokumen selesai diperiksa, dosen akan mengirimkan kembali ke saya dan saya tinggal membuat perubahan sampai benar. Sampai akhirnya dosen saya menggunakan software khusus yang menunjang bimbingan skripsi. Dan setelah semua bab selesai dan sudah oke, baru skripsi tersebut saya print. Saya menghabiskan tidak sampai 1 rim kertas. :)

Kecil ya? Sederhana ya? Sepertinya tidak penting dan terlewat begitu saja. Tapi coba bayangkan jika ada banyak dosen dan mahasiswa yang tidak gagap teknologi, yang mau memanfaatkan teknologi untuk mempermudah kerja mereka. Coba bayangkan berapa banyak energi yang bisa dihemat?

Bukan hanya penghematan pada penggunaan kertas. Dengan bimbingan secara online, mahasiswa hanya perlu sesekali datang ke kampus, tidak perlu menunggu dosen lama-lama. Sudah berapa banyak lagi ongkos dan energi yang bisa dihemat. Konsultasi pun sebenarnya bisa dilakukan melalui media Internet. Selama keduanya terkoneksi dengan Internet, dosen bisa memberi referensi dengan mengirimkan link dll. Jadwal tatap muka juga bisa lebih dijarangkan, dan diantara jadwal tersebut, mahasiswa masih tetap bisa dipantau secara online.

Beruntung saya mengambil jurusan IT, saya jadi sedikit lebih aware teknologi dibanding teman-teman non IT. Hidup saya tak lepas dari komputer dan Internet. Apa-apa cari di search engine. Semua data kalau bisa berbentuk file digital. Saya membayangkan seandainya saja banyak dosen dan mahasiswa lain yang tergerak hatinya. Terlepas dari sikap beberapa orang yang sulit menerima perubahan, saya rasa mereka yang mau menggunakan teknologi akan menyadari bahwa sebenarnya teknologi dapat mempermudah hidup mereka.

Change one thing, Change everything.*
Ubah satu hal, ubah semuanya.

*quote dari film Butterfly Effect

Akhirnya saya terserang virus tumblr juga.. :) bermula dari iseng, jadi ketagihan…

Kalo ada waktu silakan mampir ke tumblr saya yah, http://ardhanareshwari.tumblr.com

ardhanareshwari on tumblr

ardhanareshwari on tumblr

Simple, clean dan saya banget!

Suka deh ^0^

Category: Moi  Tags: ,  Leave a Comment