Archive for the Category »Moi «

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]

Senang rasanya sependapat dengan Kartini :)

Mei 2009, di blog ini juga,  saya menulis Cita-cita saya adalah menjadi Bunda, itu saja. Dua tahun kemudian, saat ini, kurang dari sebulan pernikahan saya,  saya menulis lagi, masih dengan tema yang sama, Bunda.

Sampai sekarang role model saya masih Ibu Hasri Ainun Habibie, dokter yang terlahir dari keluarga intelek, tapi memilih menjadi bunda bagi anak-anaknya. Toh itu tak mengurangi rezekinya. Juga tentu saja Khadijah R.A, istri Rasul, pengusaha sukses, tapi juga seorang bunda yang luar biasa.

Kata “Bunda” bagi saya, lebih dari sekedar Ibu secara fisik yang melahirkan anak(-anak) kandungnya. Bagi saya, kata tersebut memiliki nilai sakral yang teramat berat untuk diemban. Bunda adalah seorang pengayom dan pendidik. Pemberi rasa aman dan nyaman, sekaligus pelita bagi siapapun. Terutama bagi suami dan anak-anaknya sendiri tentunya. Berat sungguh. Sampai sekarang saya masih tak mampu bersikap seperti itu.

Namun katanya, cita-cita itu harus setinggi bintang ya, jadi kalo ga sampe bintang minimal sampe awan. Oleh karena itulah saya suka dipanggil Bunda. Padahal saya belum menikah, apalagi punya anak. Bukan Bundanya si A atau si Z.

Menjelang pernikahan, hasrat terpendam menjadi Bunda Pendidik ini semakin menjadi. Padahal siapa saya? Berbakat jadi guru, tidak. Latar belakang pendidik, bukan. Bahkan hanya Tuhan yang tau saya akan diberi kepercayaan mengasuh anak kandung atau tidak. Tapi semua itu bukan alasan untuk tidak menyiapkan diri, bukan begitu?

Sebagai bentuk persiapan itu, saya banyak mencari artikel di Internet. Bagaimana fisik dan mental menjadi Ibu sudah harus disiapkan jauh-jauh hari sebelum menikah. Mulai dari asupan makanan dan gizi, keharusan berolahraga, lalu asupan rohani (sholat, puasa, sedekah, membaca Al Quran). Banyak memang, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Salah satu bentuk usaha saya yang agak ekstrim adalah mempengaruhi orang-orang terdekat agar kelak saya bisa bekerja dari rumah, atau setidaknya bekerja di tempat yang dekat dari rumah dan tidak harus menghabiskan separuh hari saya di kantor. Toh saya tidak bodoh, hanya karena sekolah dulu pernah tidak dapat rangking bukan berarti saya nggak pernah jadi juara umum. Saya mendapat predikat tres bien (sangat baik/sangat memuaskan) di kelas bahasa Prancis. Saya memiliki bakat mudah belajar dari itu teori sampai keterampilan (menjahit, pergamano, paper quilling, merenda, merajut,  memasak). Jadi uang seharusnya bukan alasan untuk tetap bekerja jauh dari rumah.

Bagaimanapun, semua hanya usaha. Yang bagi saya baik, belum tentu bagi Tuhan, dan sebaliknya.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Saya merelakan impian masa muda saya untuk dapat ‘terbang’ jauh. Semua for the greater good. Semoga semesta mendukung. Amin.

Artikel terkait :
IBU SEBAGAI PENDIDIK PERTAMA DAN UTAMA
PERAN PEREMPUAN DALAM KELUARGA ISLAMI
Wanita dalam Keluarga Islami

*Tulisan ini dibuat sebagai justifikasi kepada calon suami saya, tentang mengapa saya sangat menginginkan untuk dapat mengatur ‘waktu’ saya sepenuhnya. :)

 

Category: Moi  Tags: ,  Leave a Comment

Akhirnya saya terserang virus tumblr juga.. :) bermula dari iseng, jadi ketagihan…

Kalo ada waktu silakan mampir ke tumblr saya yah, http://ardhanareshwari.tumblr.com

ardhanareshwari on tumblr

ardhanareshwari on tumblr

Simple, clean dan saya banget!

Suka deh ^0^

Category: Moi  Tags: ,  Leave a Comment

Senja kemarin kulihat samudera awan
Putih bergumpal, luas bagai lautan
Disudut sana mentari kemerahan menyapa
Berpamitan karena malam segera tiba

Ah, rasa-rasanya ingin berlari terbang mengejar angin
Atau terbenam mengarungi samudera kapas itu
Namun jala menjerat di kaki
Tak mampu terlepas walau dihentak

Bibir bisa tersenyum
Tapi jiwa tak mau dibohongi

Suara-suara mulai berkata
Berdengung di telinga

Tapi aku tak suka
Diam sajalah
Tak usah kau berkata

Saat ini aku menurut saja
Tapi impian tetap tersimpan di dalam sana

Aku tahu, kapan harus berhenti
Aku tahu, kapan harus pergi

Tidak sekarang, mungkin nanti
Karna aku percaya
Takkan selamanya…

*image form http://shw.seloka.fotopages.com/7401664/x-pernah-aku-tgk-langit-n-awan-yang-lawa-camni.html

Beberapa hari yang lalu saya mengikuti wawancara user di suatu perusahaan. Ada 5 orang yang mewawancarai saya, dan salah satu pewawancara bertanya “Anda suka membaca buku? Buku jenis apa?” Ketika saya menjawab bahwa saya suka membaca novel, sang Pewawancara tadi langsung menyimpulkan bahwa saya bukan orang yang serius.

Selesai wawancara saya masih memikirkan apa sih sebenarnya korelasi antara buku dan tingkat keseriusan. Apakah dengan satu pertanyaan dan satu jawaban tersebut bisa menjelaskan karakter seseorang. Sebenarnya “orang yang serius” itu yang seperti apa sih?

Sebelum mencari definisinya di KBBI, menurut saya serius itu adalah bersungguh-sungguh pada suatu hal. Kalo definisi pribadi saya, serius itu adalah “dapat menyelesaikan sesuatu (dengan baik) apa yang sudah dimulai”. Jadi, bagi saya, saya adalah orang yang cukup serius. Saya mampu menyelesaikan pendidikan saya. Saya mampu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan saya. Rumah yang saya tinggali cukup terawat. Kendaraan yang saya punya rajin saya servis. Saya mampu berurusan dengan birokrasi tanpa menggunakan calo. Dalam hubungan cinta pun saya serius, saya tidak selingkuh, saya tidak ingin merebut pacar orang, dengan calon suami saya pun kami sudah jalan hampir 4 tahun.

Terlepas dari itu semua, mari kita kembali ke buku. Saya suka membaca buku. Suka sekali. Dulu saat SMA saya paling rajin ke perpustakaan, yang saya cari majalah sastra, namanya Horison (kalau tidak salah). Kelas 3 SMP saya bahkan sudah membaca novel Dunia Sophie, sebuah novel filsafat yang ‘cukup berat’. Sebelum ada handphone dan Internet (dimana saya bisa membaca berita/novel di hp), saya selalu membawa buku kemana saja. Sampai saya pernah menyatakan “semua orang boleh pergi, tapi tinggalkan saya dengan sebuah buku, maka saya tidak akan bosan”. Dulu, saat masih “kaya raya = uang kiriman ortu masih lancar”, salah satu pengeluaran terbesar saya adalah buku. Bisa ratusan ribu saya habiskan sekali belanja. Sampai sekarang pun, kalau saya pulang, Ibu saya sering berkata “kalau sudah dirumah itu istirahat, jangan membaca terus, kasihan matamu. Sudah, buku-bukunya dibawa ke Jogja saja, dibaca disana”. FYI, selama mudik saya bisa menamatkan beberapa judul buku.

Lalu, jenis buku. Saya suka novel, tentu saja, tapi tidak semua. Saya akan membaca buku kalo sudah ada tulisan “Best Seller” didepannya:) Jadi bisa dibilang selera saya mengikuti selera sejuta umat. Buku terbaru yang saya baca dan menjadi favorit saya adalah The Alchemist (Paulo Coelho). Buku ini sangat mempengaruhi saya. Semakin menyadarkan saya bahwa hidup ada perjalanan, dan sepanjang perjalanan itu kita harus membuka semua indera dan mata hati kita untuk mendengarkan suara alam yang berbicara dalam Bahasa Dunia. Karena buku ini saya menjadi pribadi yang lebih berani dan memiliki empati. Selain itu ada The Naked Traveller 2 (Trinity). Saya suka sekali buku ini, karena gaya bahasa Trinity yang asyik dan apa adanya. Buku-buku tentang perjalanan, bagi saya, dapat memperkaya jiwa.

Saya suka novel berseri seperti Harry Potter, Da Vinci Code dan semua karangan Dan Brown lainnya, Supernova-nya Dewi Lestari, tapi saya meng-skip Twillight buku kedua dan ketiga karna agak malas dengan ceritanya.
Saya suka komik, pastinya :) Candy-Candy menjadi komik favorit saya sepanjang masa dan masih selalu ada keinginan untuk mengubah jalan ceritanya ;) Kungfu Boy, Dragon Ball, Conan, Dragon Pigmario dan sederet komik jadul lainnya.
Saya suka buku keterampilan. Dari buku resep, membuat clay, paperquilling, gift decoration sampai buku bercocok tanam.
Saya suka buku tentang perempuan. Sederet judul seperti Wanita, Maharani, Mehrunissa the 21th wife dan Fatimah Az-Zahra menjadi santapan saya. Mereka, wanita-wanita yang memberi inspirasi bagi saya. Bahwa kekuatan seorang wanita tak bisa dan tak akan bisa diremehkan. Wanita mampu menjadi lebih berkuasa dibanding seorang pria. Di balik pria yang hebat, ada wanita yang luar biasa. Saya percaya itu.

Lalu, bagaimana dengan buku pelajaran?
Mungkin benar kata pewawancara saya kemarin, harus ada SKSnya dulu agar saya membaca buku-buku tersebut. Mungkin karena itu juga ya, saya jadi dinilai sebagai orang yang kurang serius :)

Siang ini dapet telepon dari ayah saya. Tadi saya memang nelpon duluan, sekitar jam 10an, tapi ga diangkat. Trus jam 12an ditelpon balik. Tadinya saya mau nanya kabar ayah yang katanya lagi sakit, tapi malah cerita tentang tes-tes kerjaan.

Me :
Pa, besok ayuk mau ngambil tanda peserta ujian Depkeu. (Selama ini ayah saya yang paling semangat mendorong saya untuk jadi PNS Depkeu, -sekarang Kemkeu-)
Dad :
Oh. Itu penempatannya dimana? Kalo jauh-jauh mending ga usah aja. Ngapain itu.
Me :
(agak bengong, soalnya kemaren-kemaren saya benar-benar bimbang masalah penempatan ini). Yaa, kalo depkeu kemaren katanya ya seluruh Indonesia. Kemaren ayuk tes Telkomsel juga lho pa, tapi penempatannya mungkin di Indonesia Timur. Trus hari ini harusnya wawancara Samsung, tapi ayuk ga datang, soalnya denger-denger kerjanya berat, sering lembur, sabtu masuk kerja juga.
Dad :
Kerja itu kalo bisa ada yang mudah ambil yang mudah, jangan mau kerja sampe lembur segala. Apalagi ditempatkan jauh-jauh. Sudah, mending buka usaha saja. Jual itu rumah buat modal. Kalo buka usaha dapet duit 5juta sebentar aja. (saya bengong, ayah saya ngomongin tentang buka usaha, wow)
Papa punya teman orang Cina, mana mau mereka jadi PNS. Anak-anak mereka, kecil-kecil sudah diajari bisnis. (saya makin bengong dan takjub, pengusaha Cina manakah yang telah menyampaikan ilham dari Allah itu kepada ayah saya)
Me :
Bener pa? Ayuk memang sudah ada niat ke arah situ sih (dalam hati : tapi bukannya dulu papa yang pengen ayuk kerja di kantor).
Dad :
Iya baguslah, pikirkanlah baik-baik. Kalo ada tes ikut aja, coba-coba, bukan berarti akan diambil. Kalau kerja di rumah, nanti saat punya keluarga anak-anak ada yang ngurus. Bukan jadinya anak kita jadi anak pembantu. Kita bisa menentukan juga mau tinggal dimana, ga terpengaruh jam kantor. Jangan mau jadi budak perusahaan. Papa dulu kerja dengan gaji sedikit memang bisa hidup, tapi jaman sekarang itu susah, sudah berbeda.

WOW! WOW! WOW!
Subhanallah…sumpah, saya terbengong-bengong. Kenapa saya begitu heran? Karena yang saya tau, ayah saya sangat berharap saya bisa mandiri, bekerja, jadi PNS. Beliau bahkan sangat menyayangkan waktu tau kakak sepupu saya berhenti kerja dan ikut suami. Dan seumur-umur, ayah tidak pernah menyinggung tentang masalah buka usaha.

Entah beliau baru ngobrol dengan siapa, entah dapet pencerahan dari mana, tapi saya amat bersyukur. Selama ini saya tidak berani mengemukakan keinginan pribadi saya karena ayah saya juga. Saya hanya ingin memenuhi harapan beliau. Dan saat saya mendengar itu semua, bahwa pikiran kami sekarang sejalan dan searah, rasanya beban yang ada di pundak saya seketika terangkat.

Senang sekali mendapat dukungan dari orang terdekat, apalagi dukungan moril dan materiil.
Senang mengetahui saya selangkah lebih dekat pada impian saya.
Dan yang terutama, senang rasanya mengetahui saya tidak perlu jadi PNS :)

Alhamdulillah, thank you Allah, and love you Dad, as always… :)

Category: Moi  Tags: , , , , , ,  20 Comments
16
Jun

Menunggu dan menanti, selalu. Berlumut, hanya untuk luruh menjadi tanah dan tergerus terbawa arus. Selalu dan selalu.
Sunday at 20:18

more…

Category: Cinta, Moi  Tags: , , ,  5 Comments

Menemukan notes ini di Facebook, tertanggal 18 Februari 2009. Kayaknya lucu juga kalo ditulis lagi disini, dengan beberapa perubahan tentunya :D

Oke, mari dimulai:

1. Anak pertama dari 3 bersaudara…, satu adek cowok, dan satu adek cewek yang lucunya minta ampun

2. Sangat suka jalan-jalan, wisata alam, hiking, rafting

3. Pernah menjelajah dari Malaysia, Singapore, Aceh(Sabang) mpe Lampung, sePulau Jawa, tapi BELUM PERNAH ke Bali,haha..

4. Suka warna hijau, tapi lebih sering pake pink

5. Suka bgt pernak-pernik seperti gelang dan cincin. Kalo pergi2, harus ada sesuatu yang dipake, minimal cincin.

6. Kebanyakan punya temen cowok, daripada cewek. Jarang sakit hati soalnya ;)

7. Punya motto : lebih baik punya sendiri daripada minjem punya orang (kalo bisaaa siiih)

8. Lagi keranjingan bikin craft, papercraft, clay, manik manik, dll

9. Menjahit kebaya wisudaku sendiri, uuuh, bangganya ^^

10. Cita cita mau jadi yang terbaik di bidang manapun itu

more…

Category: Moi  2 Comments
Ultah cinta ke 24

4 April 2010, met ultaaaah ^0^

Alhamdulillah, hari ini saya ulang tahun teman-teman,, sudah 24 :)

Dulu dulu, usia 24 terdengar ‘mengerikan’ dan terasa tua,, apalagi dengan status ungraduated, unmarried, dan  un(officially)employed,hehe,,, Seharusnya ga pake ‘un‘ sih, tapi ‘not yet:) Tapi sekarang, saat menjalaninya, semua terasa biasa saja,,

Senang rasanya bisa melalui pergantian usia dengan teman-teman terbaik saya,,,senang mengetahui saya selalu punya keluarga dan banyak teman yang menyayangi dan ada untuk saya.. Senang menemukan cinta-cinta baru dimana-mana,,, dan yang terutama, senang menjadi ‘cinta’ itu sendiri.

Hari ini, blog saya yang semula beralamat di http://duniadewi.wordpress.com, resmi pindah ke http://duniadewi.ardhanareshwari.com. Walau tidak ada hitam di atas putih, atau surat bersegel hukum, hari ini saya resmikan ardhanareshwari.com sebagai website pribadi saya, dan Cinta sebagai nickname saya.

Saya pun mendapat nasehat sederhana tapi sangat luar biasa,

Winda, bertambah usia berarti bertambah pula amanah yang dititipkan Tuhan padamu, yaitu untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang banyak. Kamu harus dapat memanfaatkan semua potensi diri semaksimal mungkin agar bisa bermanfaat bagi banyak orang, bukan memanfaatkan banyak orang bagi diri sendiri.

Subhanallah,,,

Dengan penuh kerendahan hati, saya mengucap syukur karena hingga saat ini saya selalu diberikan karunia dan rizky yang terbaik olehNya, dan selalu diberi kebahagiaan yang luar biasa. Semoga saya dapat selalu menjadi pribadi yang ‘tahu diri‘, dengan berpegang kepada “ambil secukupnya yang kau perlu, beri sebanyak yang kau mampu“. Bismillah..

Selamat ulang tahun, Cinta… ^0^

Selamat menempuh hidup baru, Bunda,,, :)

Category: Moi  Tags: , , , ,  6 Comments

D
De
Dhe
Dewi
Dewin
Dewinda
Ayuk
Bos
Bostin
Wien
Winda
Whiendha
Wiwin
Wiwit
Wienz
Wienzy
Tiwi
Mami

sudah
..
..
cukup
..
..

Saya lelah terlalu banyak nama kecil untuk saya,,

Sekarang,,

cukup “Bunda” saja ya ^o^

Category: Moi  Tags: , , ,  6 Comments
Am I angel?

Am I angel?

Iseng-iseng ga ada kerjaan, ikutan kuis di facebook..
: Tujuan kuis/ keterangan
.: Result
:: Komentar saya

  • What Harry Potter character are you?

: mengetahui tokoh dalam film Harry Potter yang karakternya paling mirip saya
.:Hermione Granger
::Ahahaha, dah cantik, pinter pula,, saya banget!!!:D *joget pisang*

Mau tahu yang lain??

Category: Moi  8 Comments