Archive for the Category »Movies, songs, etc «

22
Jul

Siapa yang akan ku pilih, cinta atau Tuhan?
dan kau, Siapa yang akan kau pilih, cinta atau Tuhan?
Ini semua tentang dan hanya tentang aku, kau, cinta dan Tuhan.
Dan mereka memilih Tuhan. That’s it.

Saya pernah berada dalam lingkungan dimana agama saya menjadi tak begitu mayoritas dan eksklusif lagi. Muslim dan Kristen bercampur baur dalam takaran hampir 50:50. Ada persahabatan disana, ada kasih sayang, ada kepedulian, ada permusuhan, dan hadir pula cinta. Seorang teman muslim yang taat, pacaran dengan seorang teman lain, yang kristen taat pula. Cinta menjadi alasan. Dan tiba-tiba, agama menjadi penghalang.

Tak perlu jauh-jauh, tak usahlah cerita agama yang jadi penghalang dalam hubungan cinta dua manusia. Dalam satu agama saja, katanya jangan berbohong, jangan berzina, jangan mencuri, jangan menyakiti hati orang tua,  dan jangan-jangan lainnya, tapi masih tetap saja dilakukan.

Kalau sudah begitu, masihkah (sebenarnya) kita memilih Tuhan?

Apakah dengan keangkuhan kita, kita masih memilih cinta, yang notabene adalah ciptaan Tuhan juga, yang fana dan akan musnah?

Ataukah cinta pada Tuhan itu hanya ada dalam cerita saja, tak terasa?

My favorite quote:

“Tuhan gue aja berani gue khianatin, apa lagi lo ntar?” Annisa, saat Cina membahas tentang pindah agama.

*image taken from http://www.godisadirector.com/En/download.html

Beberapa hari yang lalu saya mengikuti wawancara user di suatu perusahaan. Ada 5 orang yang mewawancarai saya, dan salah satu pewawancara bertanya “Anda suka membaca buku? Buku jenis apa?” Ketika saya menjawab bahwa saya suka membaca novel, sang Pewawancara tadi langsung menyimpulkan bahwa saya bukan orang yang serius.

Selesai wawancara saya masih memikirkan apa sih sebenarnya korelasi antara buku dan tingkat keseriusan. Apakah dengan satu pertanyaan dan satu jawaban tersebut bisa menjelaskan karakter seseorang. Sebenarnya “orang yang serius” itu yang seperti apa sih?

Sebelum mencari definisinya di KBBI, menurut saya serius itu adalah bersungguh-sungguh pada suatu hal. Kalo definisi pribadi saya, serius itu adalah “dapat menyelesaikan sesuatu (dengan baik) apa yang sudah dimulai”. Jadi, bagi saya, saya adalah orang yang cukup serius. Saya mampu menyelesaikan pendidikan saya. Saya mampu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan saya. Rumah yang saya tinggali cukup terawat. Kendaraan yang saya punya rajin saya servis. Saya mampu berurusan dengan birokrasi tanpa menggunakan calo. Dalam hubungan cinta pun saya serius, saya tidak selingkuh, saya tidak ingin merebut pacar orang, dengan calon suami saya pun kami sudah jalan hampir 4 tahun.

Terlepas dari itu semua, mari kita kembali ke buku. Saya suka membaca buku. Suka sekali. Dulu saat SMA saya paling rajin ke perpustakaan, yang saya cari majalah sastra, namanya Horison (kalau tidak salah). Kelas 3 SMP saya bahkan sudah membaca novel Dunia Sophie, sebuah novel filsafat yang ‘cukup berat’. Sebelum ada handphone dan Internet (dimana saya bisa membaca berita/novel di hp), saya selalu membawa buku kemana saja. Sampai saya pernah menyatakan “semua orang boleh pergi, tapi tinggalkan saya dengan sebuah buku, maka saya tidak akan bosan”. Dulu, saat masih “kaya raya = uang kiriman ortu masih lancar”, salah satu pengeluaran terbesar saya adalah buku. Bisa ratusan ribu saya habiskan sekali belanja. Sampai sekarang pun, kalau saya pulang, Ibu saya sering berkata “kalau sudah dirumah itu istirahat, jangan membaca terus, kasihan matamu. Sudah, buku-bukunya dibawa ke Jogja saja, dibaca disana”. FYI, selama mudik saya bisa menamatkan beberapa judul buku.

Lalu, jenis buku. Saya suka novel, tentu saja, tapi tidak semua. Saya akan membaca buku kalo sudah ada tulisan “Best Seller” didepannya:) Jadi bisa dibilang selera saya mengikuti selera sejuta umat. Buku terbaru yang saya baca dan menjadi favorit saya adalah The Alchemist (Paulo Coelho). Buku ini sangat mempengaruhi saya. Semakin menyadarkan saya bahwa hidup ada perjalanan, dan sepanjang perjalanan itu kita harus membuka semua indera dan mata hati kita untuk mendengarkan suara alam yang berbicara dalam Bahasa Dunia. Karena buku ini saya menjadi pribadi yang lebih berani dan memiliki empati. Selain itu ada The Naked Traveller 2 (Trinity). Saya suka sekali buku ini, karena gaya bahasa Trinity yang asyik dan apa adanya. Buku-buku tentang perjalanan, bagi saya, dapat memperkaya jiwa.

Saya suka novel berseri seperti Harry Potter, Da Vinci Code dan semua karangan Dan Brown lainnya, Supernova-nya Dewi Lestari, tapi saya meng-skip Twillight buku kedua dan ketiga karna agak malas dengan ceritanya.
Saya suka komik, pastinya :) Candy-Candy menjadi komik favorit saya sepanjang masa dan masih selalu ada keinginan untuk mengubah jalan ceritanya ;) Kungfu Boy, Dragon Ball, Conan, Dragon Pigmario dan sederet komik jadul lainnya.
Saya suka buku keterampilan. Dari buku resep, membuat clay, paperquilling, gift decoration sampai buku bercocok tanam.
Saya suka buku tentang perempuan. Sederet judul seperti Wanita, Maharani, Mehrunissa the 21th wife dan Fatimah Az-Zahra menjadi santapan saya. Mereka, wanita-wanita yang memberi inspirasi bagi saya. Bahwa kekuatan seorang wanita tak bisa dan tak akan bisa diremehkan. Wanita mampu menjadi lebih berkuasa dibanding seorang pria. Di balik pria yang hebat, ada wanita yang luar biasa. Saya percaya itu.

Lalu, bagaimana dengan buku pelajaran?
Mungkin benar kata pewawancara saya kemarin, harus ada SKSnya dulu agar saya membaca buku-buku tersebut. Mungkin karena itu juga ya, saya jadi dinilai sebagai orang yang kurang serius :)

When the world is gray and bleak
Baby don’t you cry
I will give you every bit of love that’s in my heart
I will bake it up into a simple little pie…

Baby don’t you cry
Gonna make a pie
Gonna make a pie with a heart in the middle
Baby don’t be blue
Gonna make for you
Gonna make a pie with a heart in the middle.
Gonna be a pie from heaven above
Gonna be filled with strawberry love
Baby don’t you cry
Gonna make a pie
And hold you forever in the middle of my heart.

Baby here’s the sun
Baby here’s the sky
Baby I’m your light and I’m your shelter
Baby you are mine
I could freeze the time
Keep you in my kitchen with me forever
Gonna be a pie from heaven above
Gonna be filled with strawberry love
Baby don’t you cry
Gonna make a pie
And hold you forever in the middle of my heart.

Gonna bake a pie from heaven above
Gonna be filled with butterscotch love
Gonna bake a pie from heaven above
Gonna be filled with banana creme love

Baby don’t you cry
Gonna bake a pie
Hold you forever
Hold you forever
And hold you forever in the middle of my heart.

by : Quincy Coleman

Have you ever watched a movie with title Waitress? For those who love family, friendship and a kind of love movie, maybe you should try this. This is a story about Jenna, she is a pie maker and she works in a restaurant. She has great friends. But her personal life betrays her. She has a possessive husband, a really really bad one.. She was trying to change her life when she got herself pregnant. Jenna is a strong and brave woman.

I like the movie, I love the ending -Jenna’s decisions-, I love the songs, I love her little girl (she’s so cute,, -bye bye bye- :D ) and I would really love if someday I could make those pies all by my self :)

One thing I got from this movie is sometimes what you need is let go
When your heart not in it, maybe you should “start fresh”…
Maybe it would be a big decision, but somehow you’ll know, your heart will tell you ;)

Ku tak bisa menebak
Ku tak bisa membaca
Tentang kamu
Tentang kamu

Kau buatku bertanya
Slalu dalam hatiku
Tentang kamu
Tentang kamu

Bagaimana
bila akhirnya ku cinta kau
dari kekuranganmu hingga lebihmu

Bagaimana
bila semua benar terjadi
Mungkin inilah yang terindah

Begitu banyak bintang
Seperti pertanyaanku
Tentang kamu
Tentang kamu

Saya baru nemu tulisan ini di draft, ternyata belum sempat dipublish:(

Lagu yg dibawain oleh BCL ini mungkin udah lama, tapi dari pertama denger kok rasanya dah kenaaa banget di hati. Lirik yang kalo ga salah dibuat oleh Dewiq ini buat saya dalem banget.
Karna sebagai cewek, saya sering berada dalam posisi menunggu dan bertanya-tanya. Mau nanya duluan ga berani. Ujungnya jadi kisah yang tak pernah dimulai.
Lagunya bagus, liriknya kena, saya suka banget!

27
Oct

Dia berkata lagi,
“Anggaplah kamu adalah cinta, dan cinta itu tak pernah salah”.
“Perempuan adalah cinta, lahir, hidup dan mati untuk cinta”.
“Namun engkau, mencintai untuk ditinggalkan. Angkuh, butuh dimengerti, tapi tak mau mengakui. Ingin dipilih dan juga ingin memilih”

Tapi aku tak setuju,

“Karna cinta adalah ilusi. Ia adalah bintang. Telah mati. Hanya tinggal cahaya, yang perlu berjuta tahun untuk sampai ke bumi”.

27
Oct

Katanya,
“Wanita adalah racun dunia”.
“Oh, tidak-tidak”, ralatnya. “Wanita seperti rokok, madu awalnya, racun setelahnya”.
“Ia gemar menyakiti, tebar pesona sana-sini, terus mencari, memilih dan meninggalkan berjuta perih pada banyak hati.”
“Ia penipu, tersenyum palsu, dalam hati tak begitu”.

Aku membela, “andai diri bisa dibagi”.

“Tapi tak ada yang seperti kamu”, katanya.

Dan aku semakin terluka.

Saya baru saja nonton serial Korea, yang pernah juga diputar di Indosiar, judulnya 18 vs 29. Ceritanya mengingatkan saya pada serial Korea lain yang berjudul Fullhouse. Tapi disini yang ingin saya tulis bukan mengenai jalan cerita film-film tersebut, melainkan kebiasaan atau budaya yang ada di dalam film tersebut.

Satu hal yang paling saya perhatikan adalah budaya menyikat gigi sebelum tidur. Bukan sekali atau dua kali, tapi ada banyak adegan menyikat gigi. Sepele mungkin, bahkan terlihat  biasa saking seringnya. Tapi yang luar biasa adalah efeknya. Mengajarkan kebiasaan yang sangat baik kepada penonton.
Selain itu ada budaya yang sangat saya sukai, yaitu walau di film tersebut tokoh utamanya adalah artis, yang notabene kaya raya, tetap saja istri dan suami yang mengerjakan urusan rumah tangga. Pagi-pagi makanan sudah terhidang. Mencuci dan membersihkan rumah, dilakukan istri atau suami.
Terlepas dari biaya pembantu di Korea yang -mungkin- mahal, bandingkan dengan sinetron Indonesia, kaya dikit langsung pake pembantu, perintah sana perintah sini. Belum pembantunya jahat, atau majikannya yang kejam.

Satu lagi film yang saya tonton adalah Beautiful. Masih dari Korea juga, tapi berupa cerita lepas. Menceritakan tentang seorang wanita cantik, dan bagaimana kecantikannya tersebut pada akhirnya malah menjadi bumerang baginya. Selesai menonton cerita tesebut saya tak henti-hentinya bersyukur tidak terlahir cantik rupawan seperti artis-artis ibukota.

Pesan moral dan budaya yang ditampilkan film-film tersebut ditampilkan dengan sederhana, tetapi terasa sangat mengena.

Butuh komitmen yang kuat, butuh otak yang tidak melulu berpikir tentang rating dan keuntungan, butuh niat yang luar biasa untuk membuat film yang dapat memberi pelajaran -bukan sekedar hiburan.

Harus optimis bahwa sineas muda Indonesia akan mampu menghasilkan film-film yang luar biasa!

Satu lagu

Sebaris lirik

“I Just Wanna Say I Love You”

Melly Goeslow dan POTRET emang kagak ada matinya!!!!

Dan kalo didengerin ya, emang pas banget! Sesuai artinya, saya hanya ingin bilang kalo saya sayang sama kamu. Dah! Cukup, itu aja, ga lebih-lebih pake embel-embel ini atau itu.

Kereeeen abiizzzzzzzz! Salute!

Aku ingin bisa membuat puisi lagi
seperti dulu…

tentang cinta, kematian, dan persahabatan…

tentang aku
tentang kamu

tentang kita…

tentang langit disana
yang selalu mencatat kisah kita…

Ditemani para bidadari dan kerlip gemintang
serta pelangi yang membangunkan malam

Aku hanya ingin bisa membuat puisi lagi,
seperti dulu…

intro: Cmaj7 G (4x)

D                     F#m
Kularut luruh dalam keheningan hatimu
Bm                     G         A
Jatuh bersama derasnya tetes air mata
D                        F#m
Kau benamkan wajahmu yang berteduhkan duka
Bm                  G       A
Melagukan kepedihan didalam jiwamu

Reff:
D                       Bm
Tak pernah terpikirkan olehku
Em                    F#7
Untuk tinggalkan engkau seperti ini
D                     Bm
Tak terbayangkan jikaku beranjak pergi
Em                      F#7
Betapa hancur dan harunya hidupmu

D                        F#m
Sebenarnya ku tak ingin berada disini
Bm                      G          A
Ditempat jauh yang sepi memisahkan kita
D                   F#m
Kuberharap semuanya pasti akan berbeda
Em            Bm          G     A
Meski tak mungkin menumbuhkan jiwa itu lagi

Reff:
D                       Bm
Dan tak pernah terpikirkan olehku
Em                   F#7
Untuk tinggalkan engkau seperti ini
D                     Bm
Tak terbayangkan jikaku beranjak pergi
Em                      F#7
Betapa hancur dan harunya hidupmu

Interlude: Bm A F#m G F# (2x)
G Bm (2x)

G               Bm
Aku tak mengerti apa yang mungkin terjadi
G             Bm             G
Sepenuh hatiku aku tak mengerti