Beberapa hari yang lalu saya mengikuti wawancara user di suatu perusahaan. Ada 5 orang yang mewawancarai saya, dan salah satu pewawancara bertanya “Anda suka membaca buku? Buku jenis apa?” Ketika saya menjawab bahwa saya suka membaca novel, sang Pewawancara tadi langsung menyimpulkan bahwa saya bukan orang yang serius.
Selesai wawancara saya masih memikirkan apa sih sebenarnya korelasi antara buku dan tingkat keseriusan. Apakah dengan satu pertanyaan dan satu jawaban tersebut bisa menjelaskan karakter seseorang. Sebenarnya “orang yang serius” itu yang seperti apa sih?
Sebelum mencari definisinya di KBBI, menurut saya serius itu adalah bersungguh-sungguh pada suatu hal. Kalo definisi pribadi saya, serius itu adalah “dapat menyelesaikan sesuatu (dengan baik) apa yang sudah dimulai”. Jadi, bagi saya, saya adalah orang yang cukup serius. Saya mampu menyelesaikan pendidikan saya. Saya mampu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan saya. Rumah yang saya tinggali cukup terawat. Kendaraan yang saya punya rajin saya servis. Saya mampu berurusan dengan birokrasi tanpa menggunakan calo. Dalam hubungan cinta pun saya serius, saya tidak selingkuh, saya tidak ingin merebut pacar orang, dengan calon suami saya pun kami sudah jalan hampir 4 tahun.
Terlepas dari itu semua, mari kita kembali ke buku. Saya suka membaca buku. Suka sekali. Dulu saat SMA saya paling rajin ke perpustakaan, yang saya cari majalah sastra, namanya Horison (kalau tidak salah). Kelas 3 SMP saya bahkan sudah membaca novel Dunia Sophie, sebuah novel filsafat yang ‘cukup berat’. Sebelum ada handphone dan Internet (dimana saya bisa membaca berita/novel di hp), saya selalu membawa buku kemana saja. Sampai saya pernah menyatakan “semua orang boleh pergi, tapi tinggalkan saya dengan sebuah buku, maka saya tidak akan bosan”. Dulu, saat masih “kaya raya = uang kiriman ortu masih lancar”, salah satu pengeluaran terbesar saya adalah buku. Bisa ratusan ribu saya habiskan sekali belanja. Sampai sekarang pun, kalau saya pulang, Ibu saya sering berkata “kalau sudah dirumah itu istirahat, jangan membaca terus, kasihan matamu. Sudah, buku-bukunya dibawa ke Jogja saja, dibaca disana”. FYI, selama mudik saya bisa menamatkan beberapa judul buku.

Lalu, jenis buku. Saya suka novel, tentu saja, tapi tidak semua. Saya akan membaca buku kalo sudah ada tulisan “Best Seller” didepannya:) Jadi bisa dibilang selera saya mengikuti selera sejuta umat. Buku terbaru yang saya baca dan menjadi favorit saya adalah The Alchemist (Paulo Coelho). Buku ini sangat mempengaruhi saya. Semakin menyadarkan saya bahwa hidup ada perjalanan, dan sepanjang perjalanan itu kita harus membuka semua indera dan mata hati kita untuk mendengarkan suara alam yang berbicara dalam Bahasa Dunia. Karena buku ini saya menjadi pribadi yang lebih berani dan memiliki empati. Selain itu ada The Naked Traveller 2 (Trinity). Saya suka sekali buku ini, karena gaya bahasa Trinity yang asyik dan apa adanya. Buku-buku tentang perjalanan, bagi saya, dapat memperkaya jiwa.
Saya suka novel berseri seperti Harry Potter, Da Vinci Code dan semua karangan Dan Brown lainnya, Supernova-nya Dewi Lestari, tapi saya meng-skip Twillight buku kedua dan ketiga karna agak malas dengan ceritanya.
Saya suka komik, pastinya
Candy-Candy menjadi komik favorit saya sepanjang masa dan masih selalu ada keinginan untuk mengubah jalan ceritanya
Kungfu Boy, Dragon Ball, Conan, Dragon Pigmario dan sederet komik jadul lainnya.
Saya suka buku keterampilan. Dari buku resep, membuat clay, paperquilling, gift decoration sampai buku bercocok tanam.
Saya suka buku tentang perempuan. Sederet judul seperti Wanita, Maharani, Mehrunissa the 21th wife dan Fatimah Az-Zahra menjadi santapan saya. Mereka, wanita-wanita yang memberi inspirasi bagi saya. Bahwa kekuatan seorang wanita tak bisa dan tak akan bisa diremehkan. Wanita mampu menjadi lebih berkuasa dibanding seorang pria. Di balik pria yang hebat, ada wanita yang luar biasa. Saya percaya itu.
Lalu, bagaimana dengan buku pelajaran?
Mungkin benar kata pewawancara saya kemarin, harus ada SKSnya dulu agar saya membaca buku-buku tersebut. Mungkin karena itu juga ya, saya jadi dinilai sebagai orang yang kurang serius
Komentar Terbaru